Foto Saya
Muhamad Ali Saifudin
Guru Bahasa Inggris SMKN Darul Ulum Muncar, Menginspirasi Guru, Memotivasi Siswa. Dari Ujung Timur Pulau Jawa, Wringinputih Muncar Banyuwangi.
Lihat profil lengkapku

Selamat Datang di Weblog Muhamad Ali Saifudin *)

Penulis berusaha menyajikan berbagai informasi tentang Pendidikan, Belajar Bahasa Inggris, Informasi SMK, NUPTK, Sertifikasi Guru, Wisata, Tips dan Trik. Motto Penulis "Yang Abadi adalah Perubahan dan yang Pasti adalah Ketidakpastian, Siapa yang tidak Berani Berubah tidak akan Memiliki Kepastian".

Copy Paste artikel Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK dalam blog ini boleh asal:

1). Memuat nama penulis Muhamad Ali Saifudin.
2). Menyertakan alamat http://muhamadalisaifudin.blogspot.com ke sumber artikel yang ditulis
.
3). Kritik dan Saran Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK Klik Disini
*) Muhamad Ali Saifudin tinggal di http://muhamadalisaifudin.blogspot.com

Rabu, 24 Desember 2008

Kawah Ijen Keluarkan Gas Beracun

. Rabu, 24 Desember 2008
0 komentar
Wisatawan Waspadalah! Kawah Ijen Keluarkan Gas Beracun

BANYUWANGI, SELASA — Gunung Ijen (2386 mdpl) yang berada di perbatasan Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi serta Bondowoso, Jawa Timur, Selasa, dari kawahnya mengeluarkan gas beracun. Kondisi ini cukup membahayakan sehingga wisatawan dan para penambang belerang dilarang beraktivitas sementara di Kawah Ijen.

Dari kawasan Kawah Ijen dilaporkan, menurut para penambang belerang, gas beracun mulai keluar sekitar pukul 07.00, Selasa, 23/12. "Gas beracun keluar tadi pagi. Biasanya seharian, nanti sore prediksi saya sudah tidak lagi keluar (gas beracun)," kata Busaeri (38) salah seorang penambang belerang.

Ia mengungkapkan, biasanya gas beracun keluar dari Kawah Ijen sekitar bulan "Suro" (Muharram). Satu Muharram atau Tahun Baru 1430 Hijriah tanggal 29 Desember mendatang. "Ya udah dekat Suro-kan," katanya sambil tersenyum.

Terkait larangan menambang, menurut Busaeri, ada pengawas belerang dari penambangan Candi Ngrimbi yang selama ini menampung belerang hasil para penambang tradisional, memperingati masalah gas beracun tersebut.

"Tadi pagi pengawas itu yang mengeluarkan larangan, agar para penambang tidak melakukan kegiatan di Kawah Ijen untuk sementara waktu, karena ada gas beracun menyembur," katanya menjelaskan.

Padahal, setiap hari puluhan warga sekitar melakukan penambangan secara tradisional atas belerang yang keluar setiap saat di dalam Kawah Ijen. Setiap penambang mampu mengangkut 70 sampai 80 kg.

Penambangan dan pengangkutan yang tradisional ini menjadi salah satu obyek yang memiliki daya tarik unik serta menarik bagi wisatawan, selain kawahnya yang berubah warna setiap saat serta belerang yang keluar dari "perut" bumi berwarna jingga dan setelah membeku diterpa udara berubah warna kuning.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga Bondowoso, Urip Basuki, Senin (22/12), mengatakan, wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen pada tahun 2008 sebanyak 13.528 orang.

Dari jumlah tersebut, 5.704 orang di antaranya wisatawan mancanegara (wisman), dan selebihnya 7.824 wisatawan nusantara (wisnu). "Jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kawah Ijen tahun lalu, jumlah wisatawan tahun ini mengalami penurunan. Pada tahun 2007 tercatat 16.587 orang, dengan rincian 10.535 wisnu dan 6.052 wisman." katanya menambahkan.

Obyek wisata alam lainnya sekitar Kawah Ijen, ialah agrowisata kebun kopi Arabica pada tahun ini dikunjungi 5.317 orang. Wisman yang berkunjung di obyek wisata milik PTPN XII yang luasnya 4.000 hektare ini tercatat 2.005 orang, sedangkan wisnu 3.312 orang.

"Di obyek wisata ini, pengunjung bisa menyaksikan proses pemetikan hingga penggilingan kopi jenis Arabica, misalnya, kopi luwak, ijen, dan gunung blaw," katanya.

Sumber: Kompas
Read More... Kawah Ijen Keluarkan Gas Beracun

Minggu, 14 Desember 2008

Motif Batik Banyuwangi Kaya

. Minggu, 14 Desember 2008
0 komentar
Kaya Motif, Batik Banyuwangi Belum Dipatenkan
BANYUWANGI-Tak banyak warga yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional.

Tren penggunaan motif batik pada pakaian mulai meningkat akhir-akhir. Gairah perkembangan bisnis batik kembali terasa menggeliat di Banyuwangi.

Dulunya, baju batik lebih banyak dikenakan pada acara resmi. Misalnya acara resepsi atau kegiatan resmi lainnya. Namun saat ini, batik sudah banyak dipakai untuk tren baju sehari-hari. Mulai seragam sekolah dan baju kerja karyawan perkantoran, motif pelengkap kerudung, baju casual hingga busana muslim untuk acara santai.
Meski sudah menjadi pakaian sehari-hari, warga Kota Gandrung banyak yang tidak tahu bahwa batik sebenarnya sudah lama berkembang di Banyuwangi. Bahkan, batik sudah ada sejak zaman kerajaan Blambangan. "Batik Banyuwangi itu memiliki khas tersendiri," ujar HM Suyadi, salah satu pengusaha batik Banyuwangi.

Bos galeri batik Virdes di Kecamatan Cluring itu mengungkapkan, Banyuwangi sebenarnya termasuk daerah asal batik. Karena minimnya perajin, akhirnya batik Banyuwangi kalau jauh dengan daerah lain di Jawa Tengah dan Jogjakarta. "Biasanya kalau bicara batik, bayangan kita itu pasti langsung ke Jogja, Solo, atau Pekalongan," katanya.

Sebagai salah satu daerah asal batik, Banyuwangi memiliki banyak motif. Di museum batik, Banyuwangi tercatat punya 21 jenis motif batik yang jadi ciri khas Banyuwangi. "Sebenarnya masih banyak, tapi yang diakui 21 motif batik itu," ujarnya.

Di antara 21 motif batik yang kini banyak digandrungi warga Blambangan, di antaranya ada motif gajah uling, paras gempal, kangkung setingkes, sembruk cacing, gedegan, ukel, blarak semplah, dan moto pitik. "Nama motif ini khas Banyuwangi, ini menunjukkan batik asli Banyuwangi" jelasnya.

Selama ini, kata Suyadi, ada anggapan yang salah kalau gajah oling itu batik khas Banyuwangi. Padahal yang benar, gajah uling hanya salah satu dari sekian banyak nama motif batik khas Banyuwangi. "Semua motif dari batik Banyuwangi itu diciptakan oleh nenek moyang Banyuwangi sendiri," paparnya.

Dalam penciptaannya, motif batik Banyuwangi ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Gajah uling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. "Motif sembruk cacing juga kayak cacing, dan motif gedegan juga kayak gedeg (anyaman bambu)," bebernya.

Bagi Suyadi, penciptaan motif batik Banyuwangi merupakan bentuk karya seni yang cukup tinggi. Semua motif itu diambilkan dari kekayaan alam Banyuwangi yang beraneka ragam. "Jadi motif batik ini warisan nenek moyang itu bernilai seni yang harus dipertahankan," cetusnya.

Motif batik seperti di Banyuwangi ini, tidak akan bisa ditemukan di daerah lain. Karena batik dengan motif ini, sudah menjadi identitas dari batik khas Banyuwangi. "Untuk menghindari pembajakan, pemerintah harusnya mempatenkan motif batik Banyuwangi ini," harapnya.(abi/bay) Sumber; http://www.jawapos.com/radar
Read More... Motif Batik Banyuwangi Kaya

Selasa, 21 Oktober 2008

Jalur Pacitan-Banyuwangi Butuh 1.400 Jembatan

. Selasa, 21 Oktober 2008
0 komentar
SURABAYA, SENIN - Jalur lintas selatan Jawa Timur membutuhkan 1.400 jembatan baru untuk menyambung jalan dari Pacitan hingga Banyuwangi. Pembangunan jalan itu diprediksi selesai paling cepat pada 2016.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi (Bappeprov) Jatim Hadi Prasetyo mengatakan, saat ini pembangunan dikonsentrasikan pada jembatan itu. Pasalnya, lalu lintas akan lebih lancar jika jalur-jalu sudah tersambung dengan jembatan.

"Pembangunan terutama di daerah perbatasan kabupaten/kota," ujarnya di Surabaya, Senin (20/10). Selain itu, pembebasan lahan untuk jalan belum diselesaikan. Pembebasan itu menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten yang dilalui Jalur Lintas Selatan.

"Anggaran untuk jalur ini memang amat terbatas," ujarnya. Waktu mulai direncanakan pada 2001, JLS diperkirakan menelan dana Rp 3 triliun dan selesai paling cepat pada 2016.

Jumlah dana dipastikan semakin membengkak sekarang. "Sementara kucuran anggaran amat kecil. Setiap tahun Pemprov Jatim rata-rata hanya bisa mengalokasikan Rp 50 hingga 75 miliar. Dari pusat malah rata-rata di bawah Rp 10 miliar per tahun," tuturnya.

Sumber: Kompas
Read More... Jalur Pacitan-Banyuwangi Butuh 1.400 Jembatan

Sabtu, 13 September 2008

Opini Pendidikan: Ruang Opini Pembaca

. Sabtu, 13 September 2008
0 komentar
Muhamadalisaifudin.blogspot.com memberikan kesempatan kepada para Pembaca Setia untuk memberikan Gagasan, Ide, Komentar, Kritikan, Masukan, Dorongan dan berpartisipasi dalam memberikan Opini yang berhubungan dengan Dunia Pendidikan, Sertifikasi, Profesi Guru, Pendidik, Tenaga Kependidikan, dll.


Semoga dengan adanya Opini dari pada Pembaca Setia, dapat memberikan Pencerahan untuk perbaikan Pendidikan di Negara Kita Tercinta Indonesia.


Diskusi ini Terbuka, Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita.
Silakan Isi Opini dikolom Komentar
Read More... Opini Pendidikan: Ruang Opini Pembaca

Kamis, 24 Januari 2008

Upacara Kebo Keboan Alasmalang Banyuwangi

. Kamis, 24 Januari 2008
0 komentar
UPACARA ADAT KEBO-KEBOAN
Rabu, 23 Januari 2008 Di sepanjang jalan utama Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh pada hari minggu (20/01/08) dialiri air yang dikeluarkan dari pompa air yang ada di desa tersebut sehingga jalanan utama desa itu becek seperti tanah sawah yang akan ditanami padi, kemudian muncul orang-orang dengan wajah dan tubuhnya yang hitam legam dan dikepalanya terdapat tanduk seperti kerbau menyusuri jalanan tersebut yang dihalau oleh para petani lengkap dengan bajaknya. Walaupun demikian banyak sekali orang-orang yang datang dari berbagai wilayah di Banyuwangi memadati jalan tersebut. Bahkan Bupati Banyuwangi beserta beberapa pejabat Pemkab, Kapolres dan Dandim 0825 Banyuwangi turut hadir menyaksikan.

Kejadian tersebut merupakan salah satu prosesi upacara adat Kebo-keboan yang dilaksanakan setiap tahun oleh warga Desa Alasmalang. Awalnya upacara adat ini dilaksanakan untuk memohon turunya hujan saat kemarau panjang, dengan turunnya hujan ini berarti petani dapat segera bercocok tanam.

Prosesi upacara ini diawali dengan selamatan ditengah jalan kampung pada pagi hari, terdapat sesaji, kue dan nasi tumpeng yang diberi do’a yang dipimpin oelh seorang kyai / tokoh adapt desa, kemudian tumpeng dibagikan kepada para pengunjung dan masyarakat sekitar. Kue dan makanan disiapkan oleh masing-masing keluarga dan disajikan untuk para tamu dan famili yang berkunjung. Selanjutya acara dilanjutkan dengan “Idher Bumi” yang diikuti oleh beberapa orang laki-laki yang berbadan tegap yang berdandan dan bertingkah laku seperti kerbau. Tubuh mereka dicat dengan cat hitam sehingga kelihatan hitam legam.

Sebagai puncaknya adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi di persawahan. Orang-orang yang bertingkah seperti kerbau tadi dapat kesurupan dan mengejar siapa saja yang mencoba mengambil bibit padi yang ditanam. Warga masyarakat Desa Alasmalang berusaha berebut bibit padi tersebut, karena dipercaya dapat digunakan sebagai tolak-balak maupununtuk keuntungan.
Sumber: Radar Banyuwangi Foto: http://romdan.files.wordpress.com
Read More... Upacara Kebo Keboan Alasmalang Banyuwangi

Selasa, 01 Januari 2008

Daftar Isi

. Selasa, 01 Januari 2008
0 komentar
Selamat Datang dan Bergabung di Weblog Kami,
Semoga Weblog ini Bermanfaat Bagi Semua.
Untuk Komentar, Kritik dan Saran, 
Silakan Tulis DISINI.
Selamat Berselancar!


Read More... Daftar Isi

Kontak Kami

.
1 komentar
Pengunjung Weblog http://rumahauliamas.blogspot.com yang terhormat,Anda dapat memanfaatkan Fasilitas ini untuk mengirimkan saran, komentar, atau pertanyaan menyangkut berbagai hal yang ada di blog kami.


Name *



Email *



Website *



Message *




Image Verification

captcha

Silakan Masukkan Kode Gambar Disamping:

[Ganti Kode Gambar] [Apa Ini?]

Read More... Kontak Kami
 

Tamu Kampung Inggris

Traffic Pidato Inggris

Komentar Terbaru Sobat Setia Muhamad Ali Saifudin

All right reserved Muhamad Ali Saifudin is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com