Foto Saya
Muhamad Ali Saifudin
Guru Bahasa Inggris SMKN Darul Ulum Muncar, Menginspirasi Guru, Memotivasi Siswa. Dari Ujung Timur Pulau Jawa, Wringinputih Muncar Banyuwangi.
Lihat profil lengkapku

Selamat Datang di Weblog Muhamad Ali Saifudin *)

Penulis berusaha menyajikan berbagai informasi tentang Pendidikan, Belajar Bahasa Inggris, Informasi SMK, NUPTK, Sertifikasi Guru, Wisata, Tips dan Trik. Motto Penulis "Yang Abadi adalah Perubahan dan yang Pasti adalah Ketidakpastian, Siapa yang tidak Berani Berubah tidak akan Memiliki Kepastian".

Copy Paste artikel Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK dalam blog ini boleh asal:

1). Memuat nama penulis Muhamad Ali Saifudin.
2). Menyertakan alamat http://muhamadalisaifudin.blogspot.com ke sumber artikel yang ditulis
.
3). Kritik dan Saran Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK Klik Disini
*) Muhamad Ali Saifudin tinggal di http://muhamadalisaifudin.blogspot.com

Jumat, 16 Maret 2012

Motivasi: Blame, Excuse, Justify

. Jumat, 16 Maret 2012
Motivasi: TDW: BEJ (Blame, Excuse, Justify) Ke Laut Aje...

Jangan salah sangka dulu, BEJ disini bukan Bursa Efek Jakarta yang sekarang telah melebur menjadi BEI (Bursa Efek Indonesia) loh. Tapi BEJ yang akan kita bahas kali ini adalah Blame, Excuse, Justify. Bahasan cantik ini, dikutif dari Buku “Financial Revolution” Karya Tung Desem Waringin, sebuah buku Best Seller yang sudah menginspirasi jutaan orang.
Andaikata di bagian tubuh kita tertusuk sebuah duri, hal pertama yang harus dilakukan sebelum mengoleskan obat pada bagian tubuh yang luka itu, adalah mencabut duri yang tertancap terlebih dahulu. Kalau duri itu dibiarkan, sehebat apaun obat dan vitamin yang kita konsumsi, luka kita dijamin tidak akan sembuh. Malahan sebaliknya luka itu akan membusuk dan mengakibatkan inspeksi.

Begitupun yang terjadi pada jiwa dan hati kita, apabila jiwa dan hati ini ingin peka, maka tugas pertama yang harus dilakukan adalah membersihkannya dari hal yang menghalangi kualitas kepekaannya.

Ada banyak cara untuk melatih kepekaan hati ini, tapi setidaknya disini kita akan bahas tiga penyakit yang akan mengurangi kepekaannya, sekaligus menghambat laju sukses seseorang. Tiga hal tersebut adalah Blame, Excuse, Justify atau disingkat BEJ.

Ketika seorang mulai Blame (menyalahkan) orang lain, menyalahkan faktor ekonomi, menyalahkan situasi, orang ini tidak akan belajar dari kegagalannya. Dan orang yang tidak belajar dari kegagalan, adalah orang gagal yang sesungguhnya. Kelemahan yang paling besar dari orang yang menyalahkan segala sesuatu adalah bahwa dia merasa benar dan tidak perlu bertindak lagi.

Ketika seseorang mulai mengajukan excuse (beralasan), seperti mengatakan terlalu muda, terlalu tua, cuma lulusan SMP, tidak berbakat, saya seorang perempuan, saya laki-laki, saya cuma…., saya terlalu…., saya tidak…, dan sebagainya, orang ini tidak akan bertindak sama sekali. Dan bila tidak ada tindakan apapun, tidak ada hasil apapun.

Justify atau pembenaran adalah upaya orang untuk menutupi kelemahan atau kemalasan untuk berubah menjadi lebih baik dengan membenarkan keadaannya, sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Misalnya, “Terang saja saya tak berhasil, karena saya tidak punya gelar!. Dan sama sekali tidaklah mengherankan kalau Amir selalu mendapatkan promsi karena dia lulusan luar negeri!”

Ketika orang lain lebih hebat daripada dirinya, orang seperti ini akan melakukan pembenaran tanpa terinspirasi untuk belajar atau menjadi lebih hebat. Kata-kata orang seperti ini khas sekali. Mereka suka menggunakan ungkapan seperti “Terang saja…”, “tidak heran…”, “Sudah tentu…”, “Tentu saja…”, “Sudah selayaknya…”, “Sudah layak dan sepantasnya…”. Bila melihat orang kaya, seorang yang suka melakukan justify akan mengatakan, “Tentu saja, anak orang kaya, sekolah di luar negeri, dapat modal banyak, sudah layak dan sepantasnya kalau dia…”

Semua ungkapan itu sebenarnya disampaikan, atau digumamkan pada diri sendiri, dengan maksud untuk membenarkan keadaannya. Dalam contoh diatas, kalau orang seperti itu bergumam “Tentu saja, anak orang kaya, sekolah diluar negeri, dapat modal banyak, sudah layak dan sepantasnya kalau dia…”, dia secara tidak langsung juga mau menegakkan sesuatu, yaitu “Nah, saya kan bukan anak orang kaya, bukan lulusan luar negeri, tak punya modal, maka wajar saja kalau saya tidak berhasil…”

Yang menyedihkan ialah bahwa apapun yang dikatakan oleh orang yang suka BEJ ini ada kebenarannya. Memang benar kalau misalnya orang umur 19 tahun berkata, “Saya baru berumur 19 kok, kan belum punya pengalaman.” Benar bahwa dia berumur 19 tahun, benar bahwa dia belum punya pengalaman, tapi belum tentu benar bahwa sukses itu mengandalkan pengalaman.

Dalam contoh diatas, benar bahwa anak orang kaya yang sukses itu memang sekolah di luar negeri dan modal banyak. Orang yang suka BEJ memakai kebenaran itu sebagai alasan untuk kemalasan dan keengganannya untuk berubah, sehingga kebenaran-kebenaran ini tidak ada manfaatnya. Satu-satunya manfaat adalah hanya membuat orang terssebut jadi hancur karena tidak belajar dan bertindak untuk menjadi lebih baik.(salamsuper)

Artikel Terkait

1 komentar:

Agus mengatakan...

bermanfaat. thx.

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Pengunjung Mohon Meninggalkan Jejak Untuk Silaturrahmi Balik.

 

Tamu Kampung Inggris

Traffic Pidato Inggris

Komentar Terbaru Sobat Setia Muhamad Ali Saifudin

All right reserved Muhamad Ali Saifudin is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com