Foto Saya
Muhamad Ali Saifudin
Guru Bahasa Inggris SMKN Darul Ulum Muncar, Menginspirasi Guru, Memotivasi Siswa, Mencintai Cinta. Dari Ujung Timur Pulau Jawa, Wringinputih Muncar Banyuwangi.
Lihat profil lengkapku

Selamat Datang di Weblog Muhamad Ali Saifudin *)

Penulis berusaha menyajikan berbagai informasi tentang Pendidikan, Belajar Bahasa Inggris, Informasi SMK, NUPTK, Sertifikasi Guru, Wisata, Tips dan Trik. Motto Penulis "Yang Abadi adalah Perubahan dan yang Pasti adalah Ketidakpastian, Siapa yang tidak Berani Berubah tidak akan Memiliki Kepastian".

Copy Paste artikel Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK dalam blog ini boleh asal:

1). Memuat nama penulis Muhamad Ali Saifudin.
2). Menyertakan alamat http://muhamadalisaifudin.blogspot.com ke sumber artikel yang ditulis
.
3). Kritik dan Saran Tips Trik Wisata Belajar Pidato Bahasa Inggris SMK Klik Disini
*) Muhamad Ali Saifudin tinggal di http://muhamadalisaifudin.blogspot.com

Rabu, 10 Februari 2010

Sejarah Berdirinya BEC Pare Kediri

. Rabu, 10 Februari 2010
Lembaga Kursus Bahasa Inggris BEC; Berawal dari Emperan Masjid

Pernahkah Anda mendengar  sebutan kampung  bahasa Inggris?  Kampung yang  berada di Kecamatan Pare,  Kabupaten Kediri,Jawa Timur itu  sangat identik dengan sosok  Muhammad Kalend Osen.  Bagaimana kiprahnya?  Sebuah plang bertuliskan  ”Kampung Bahasa” terpasang di  gang masuk Jalan Anyelir,Dusun  Singgahan,Desa Palem,Kecamatan  Pare. Sekitar 300 meter dari perempatan  jalan tersebut terdapat  sebuah lembaga kursus dengan  nama Basic English Course (BEC).

Tempat kursus yang didirikan  Muhammad Kalend Osen sekitar  33 tahun silam inilah yang menjadi  embrio munculnya sebutan kampung  bahasa Inggris di dusun itu.  Selama ini sebutan kampung  bahasa Inggris sangat populer di masyarakat. Bahkan,kampung bahasa  Inggris tersebut sudah terkenal  hingga ke berbagai penjuru negeri  ini, bahkan luar negeri.

Anda jangan lantas membayangkan  di sana seluruh warga masyarakatnya  berkomunikasi dengan  bahasa Inggris. Sebutan kampung  bahasa Inggris muncul begitu  saja dari mulut ke mulut. Tidak ada  yang tahu kapan awal munculnya  sebutan itu, entah siapa pula yang  memulai menamainya.  Sebutan itu lantaran banyaknya  tempat kursus bahasa Inggris  yang berdiri di Kecamatan Pare,  terutama di Desa Pelem dan  Tulungrejo.

”Saya sendiri kurang  setuju dengan sebutan itu. Itu akibat  berita yang tidak benar. Itu  menipu,”ujar pria yang akrab dengan  sebutan Mr Kalend ini saat  berbincang dengan Seputar Indonesia beberapa  waktu lalu.  Bapak tiga anak ini juga tidak  lantas melarang orang untuk menggunakan  sebutan kampung bahasa  Inggris untuk menggambarkan  menjamurnya lembaga kursus bahasa  Inggris di dusun itu. 


Sebagian  orang, terutama pelajar, bahkan  memilih menyebut daerah itu sebagai  English Village. ”Analisis  orang beda-beda,”katanya.  Sebutan itu juga muncul lantaran  di dusun itu rata-rata rumah warganya  dimanfaatkan untuk rumah  kos. Penghuninya adalah para pelajar  yang sedang belajar bahasa Inggris.

Jumlahnya ribuan orang dari  tahun ke tahun. Sebagai gambaran,  siswa yang belajar di BEC saja saat  ini ada sekitar 850 siswa. Belum lagi  siswa di tempat kursus lain.  Atmosfer kampung bahasa  Inggris itu semakin terasa karena  hampir seluruh rumah warga yang  disewakan untuk rumah kos  masing-masing menggunakan nama  yang diambilkan dari nama nama  bule. Ada White House, Red  House, Philadelphia, Green House,  Newcastle House,Vampire House, dan  berbagai nama asing lain.  


Pemilihan Kalend Osen sebagai  tokoh pendidik teladan hingga  mendapatkan penghargaan People  of The Year (POTY) 2009 dari  Seputar Indonesia bukan tanpa  alasan. Selain karena konsistensinya  selama bertahun-tahun memasyarakatkan  bahasa Inggris,menjamurnya  lembaga kursus bahasa  Inggris di wilayah Pare yang memberikan  multiplier effectluar biasa,  tak lepas dari sepak terjangnya.

Dari sisi ekonomi,Dusun Singgahan  yang semula warganya hanya  mengandalkan hidup dari bercocok  tanam di sawah, kini bisa mendapatkan  berkah dari banyaknya lembaga  kursus yang ada. Bermula dari  adanya BEC, akhirnya muncul lembaga  kursus serupa yang begitu banyak.  Kemudian banyaknya rumah  kos, warung, toko buku, dan berbagai  usaha lain sebagai imbas dari  berdirinya lembaga kursus BEC.  Secara tidak langsung,warga  sekitar sangat merasakan manfaat dari sisi ekonomi.

”Jelas membawa  berkah. Sangat membantu,”ujar  Wiyoto Asmo Jhon,warga Purwodadi,  Jawa Tengah, seorang alumni  BEC yang akhirnya menetap di Dusun  Singgahan dengan membuka toko  buku dan menjual beragam kebutuhan  pokok sehari-hari di sana.  Ungkapan senada dilontarkan  Yuniati, peternak lebah madu yang  tak jauh dari BEC.”Banyak sekali  siswa yang membeli madu di tempat  saya,”ujar perempuan asal  Yogyakarta ini.  Lebih dari itu,sebagian besar  pendiri lembaga kursus bahasa Inggris  yang ada di kawasan Pare adalah  lulusan BEC, walau tidak  semua.

Bahkan,tidak sedikit pula  lulusan BEC yang berasal dari luar  daerah atau luar pulau yang akhirnya  mendirikan lembaga kursus  serupa di daerah masing-masing setelah  mengenyam pendidikan singkat  di BEC, yang umumnya ditempuh  selama enam bulan.  Tidak hanya itu, kini dengan  adanya program rintisan sekolah  berstandar internasional (RSBI)  yang digagas pemerintah,cukup  banyak guru dari berbagai daerah  yang mengambil kursus singkat satu  bulan di BEC, training system(TS). 


Ini karena RSBI mengharuskan  siswa dan gurunya berbahasa  Inggris dalam proses belajar dan  mengajar.  Demikianlah multiplier effect dari berdirinya BEC yang dirintis Kalend Osen pada 1976 silam itu.  Berawal dari Dusun Singgahan itu  lahir ribuan orang dari berbagai  penjuru Tanah Air yang akhirnya  bisa ber-cas cis cus dengan bahasa  Inggris. Sejak berdiri hingga sekarang,  BEC telah meluluskan 16.285  lulusan.

Perjalanan Panjang  Kesuksesan pria kelahiran  Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan  Timur, 20 Februari 1945 itu  bersama BEC tentu tidak datang  begitu saja. Perjuangan panjang  tanpa lelah dilalui bapak tiga anak  itu selama puluhan tahun. Pria yang rambutnya mulai memutih ini semula tak pernah membayangkan  bakal bisa meraih kesuksesan sebesar  ini. ”Ini sudah jauh melebihi harapan  saya,”ungkapnya.  Kalend lantas bercerita awal  mula kiprahnya di Pare, Kediri.

Saat  itu, sekitar tahun 1976, Kalend  datang ke Dusun Singgahan untuk  berguru kepada KH Ahmad Yazid  (almarhum), tokoh agama setempat yang saat itu menjadi pengasuh  masjid dan Pondok Darul Falah. Selain pengetahuan agamanya yang  luas, Kiai Yazid, tutur Kalend, juga  menguasai sembilan bahasa asing. Sebelum merantau ke Pare,  Kalend pernah belajar di Pondok  Pesantren Modern Darusssalam,  Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Di  sana, Kalend tidak sampai lulus. Dia  hanya mengenyam pendidikan  hingga kelas lima Kuliatul Muallimin  Al Islamiyah (setingkat kelas  dua SMA). Saat itu usia Kalend sekitar  31 tahun, siswa tertua di kelasnya.  Sebelum masuk Pesantren  Gontor pada 1971, Kalend sudah  berprofesi sebagai guru di tanah kelahirannya,  mulai 1966–1967. Profesi  itu dijalaninya hanya dengan  bekal ijazah pendidikan guru  agama (PGA), walau hanya sampai  kelas empat (setara kelas satu  SMA).

Profesi sebagai guru di Kalimantan tidak membuatnya puas untuk menimba ilmu. Hingga pada  usia 27 tahun dia memilih melanjutkan  pendidikan di Pulau Jawa.  ”Saya ingin revolusi hidup,”begitu  tekad Kalend ketika pertama kali  melangkahkan kakinya meninggalkan Pulau Borneo saat itu.  Di emperan Masjid Darul Falah  itulah Kalend memulai kiprahnya sebagai guru bahasa Inggris. Itu pun dijalaninya tanpa sengaja.


Dia  lantas bercerita, saat itu ada dua  mahasiswa semester akhir IAIN  Sunan Ampel, Surabaya,yang datang  ke Pare untuk berguru kepada  Kiai Yazid.Kedua mahasiswa itu  hendak menjalani ujian akhir bahasa  Inggris di kampusnya untuk  mendapatkan gelar sarjana. Namun saat itu Kiai Yazid sedang keluar daerah, padahal ujian akhir tinggal  lima hari lagi.

Akhirnya istri Kiai Yazid menyarankan dua mahasiswa itu untuk belajar bahasa Inggris kepada Kalend. ”Cobalah belajar kepada Pak Kalend. Dia pernah di Gontor, dia  pasti bisa,”ujar Kalend menirukan saran istri Kiai Yazid kepada dua mahasiswa itu.  Kalend pun memberanikan diri untuk  mengajar dua  mahasiswa itu, walau dia  belum pernah mengenyam bangku kuliah. 


Akhirnya  keduanya belajar bahasa  Inggris bersama Kalend di emperan Masjid Darul Falah selama lima hari  untuk membahas 350 soal yang  menjadi acuan untuk ujian bahasa  Inggris dua mahasiswa itu.

Berbekal  pelajaran dari Kalend, kedua mahasiswa  itu lulus dan menyandang gelar sarjana. Setelah ujian di IAIN  Sunan Ampel Surabaya, keduanya kembali berguru kepada Kalend. Kisah sukses kedua mahasiswa  itu lantas menyebar. Sejak saat itu banyak santri yang berguru kepada  pria yang juga hobi bermain tenis  meja ini. Hingga akhirnya Kalend mendirikan lembaga kursus yang diberi nama BEC, yang pada awalnya  juga masih di serambi masjid. Pesertanya  pun hanya remaja sekitar dan  tanpa biaya. Meski begitu,setiap bulan  anak didiknya selalu memberikan  uang sekadarnya kepada Kalend sebagai ungkapan terima kasih.  (abdul rochim/islahuddin)(seputarindonesia)

Artikel Terkait

11 komentar:

Nova Imoet mengatakan...

wah keren juga tu....

Anonim mengatakan...

lam knal za..

wow keren abis mr.kalend...sungguh mulianya anda berbagi ilmu,smoga ALLOH SWT membalas jasa2 anda.amien.....

kepengin bgt q bisa blajar,tpi perasaan pesimis/minder slalu menteror q...smoga ja q bsa belajar sma beliau,amien...
wktu q pun bnyk tersita wat krja krja n krja...
heummmmm.....
insyaalloh suatu saat q kan silaturrahmi...

maaf...bsa ta tlong krim alamat lngkap ke fb q ga yua..lo bsa,ne alamatnya kajiblukang@gmail.com

thnx.

Muhamad Ali Saifudin mengatakan...

Trims atas kunjungannya. Kita doakan semoga Mr. Kalend diberi panjang umur dan tetap setia mendidik dan berbagi ilmu untuk anak negeri

syasa mengatakan...

salam kenal bwt BEC...

MAS Jawab mengatakan...

Trims. atas kunjunganya. moga sukses selalu

Anonim mengatakan...

selamat bec

Angga mengatakan...

wahhh...gak nyangka kosan saya nan indah vampire house,d sebut2 jg,emg siihh kosanny famous bgt,se antero pare jg tau vampire house,walau bentukny agak gak manusiawi,tp kbesaran nama vampire house..

sya pny tmn bbrpa dr bec jg,dan sering mndengar kisah dr mr.kalend,,,he is a great teacher for for us,although we were never studied in BEC,but mr.kalend is the first hero there,,hhe..and he deserved to get nobel for his services

Anonim mengatakan...

BEC melegenda,,,jd pengen krsus dsana...pengen menimba ilmu dan mg bisa menjd lebih baek dari skr,,,tapi kapan ea bisa ksana

ilam mengatakan...

BEC melegenda bukan karena tertuanya, tapi karena direktur dan guru-gurunya yang menerapkan sistem pembelajaran student centered, bukan hanya olah otak yang dikaji, tapi juga olah rasa....pendidikan bahasa Inggris plus dengan character buildingnya dibentuk, adanya masjid di komplek BEC menjadi tanda bahwa para guru dan siswanya jangan lepas dari nilai-nilai religi dalam belajar.....terima kasih mr. kalend dan guru-guruku...salam hangat dari kota Tasikmalaya Jabar.....ilam

nico sandiyudha mengatakan...

terima kasih atas semua ilmun yang telah kau berikan B.E.C

Kampung Inggris Pare mengatakan...

BEC memang mendunia. Berkat seorang usaha Kalend muda yang dulunya berniat untuk menimba ilmu di Pondok, akhirnya apa yang beliau lakukan cukup bermanfaat seantero negeri, ikut mencerdaskan anak bangsa melalui Bahasa Inggris.
With the language we grasp the world.

Salam dari Kampung Inggris Pare.

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Pengunjung Mohon Meninggalkan Jejak Untuk Silaturrahmi Balik.

 

Tamu Kampung Inggris

Traffic Pidato Inggris

Komentar Terbaru Sobat Setia Muhamad Ali Saifudin

All right reserved Muhamad Ali Saifudin is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com